Kamis, 12 Oktober 2017

Nasib Filateli bagi Anak Zaman Kekinian



Nasib Filateli bagi Anak Zaman Kekinian


Semakin berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, rasanya prangko memang makin tergeser. Arus teknologi dan informasi yang memudahkan setiap pengguna, dengan berbagai aplikasi komunikasi seperti chat, wa, video call, dan lain lain.  Kita sangat dimanjakan dengan pelbagai fasilitas ini, sehingga jarak dan waktu tidak ada lagi kendala untuk saling berkomunikasi. 

Beruntunglah kita semua kelahiran generasi ’80 kebawahnya, masih merasakan nikmat menulis selembar atau bahkan tiga lembar full.  Menulis dengan guratan tangan sendiri pasti ada emosi jiwa. Menulis sebuah surat membutuhkan tata cara, sopan santun, etika dan emosi yang tertahan. Emosi yang tertahan ini biasanya yang sering terjadi, emosi yang cukup halus dengan menggambarkan kerinduan, harapan dan cita-cita. Apalagi untuk muda-mudi pasti merasakannya. Begitu juga orang tua ketika menulis surat untuk anaknya di perantauan atau sedang belajar sekolah di kota seberang, atau anaknya yang sedang mencoba peruntungan merantau ke luar pulau. Bisa kita bayangkan bagaimana emosi menulis surat saat itu... yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.... Jika sudah selesai menulis surat, dimasukkan ke dalam amplop, lalu menuliskan alamat dan tak lupa nama si penerima, seperti “Utk Anandaku tercinta “.... ‘Buat Ayah/ibu tercinta’ ... atau yang sedang memadu kasih ‘adinda tersayang’....   setelah surat dimasukkan ke amplop, siapkan perangko. Nah, disinilah Perangko sebagai media pelunasan pengiriman surat. Nominal perangko menyesuaikan jarak tempuh pengiriman surat.  Bagi yang sudah biasa mengirim surat pasti tau nominal jumlahnya, atau langsung ke Kantor Pos terdekat, tanya ke karyawannya butuh perangko nominal berapa, kalau dia hobi filateli liat perangko dulu, mencari yang bagus, ditempel, bahkan membeli satu perangko untuk dimasukkan ke surat, agar bisa digunakan si penerima membalas kembali surat.

Sekarang mari kita lihat generasi sekarang, jangan tanya 2 kata ini, surat dan prangko. Mereka pasti menunjukkan ketidaktahuannya dengan wajah bingung ditambah mimik mulut melongo. Lalu coba kita tanyakan kepada mereka untuk menuliskan “chat” atau “comment”  di facebook, whatsapp,line dsb. Kita akan melihat betapa takjubnya tulisan mereka, bahkan kita yang gantian melongo melihat tulisan mereka dengan bahasa gaul yang tidak kita mengerti. Jangan tanya tata bahasa “chat” mereka, jauh dari tata cara penulisan berbahasa yang baik dan benar.  Beruntunglah kita generasi ’80 kebawah yang masih belajar menulis surat dengan bahasa indonesia yang baik dan benar. Kebiasaan menulis hampir tidak dimiliki lagi oleh sebagian besar generasi muda sekarang. Mereka lebih suka yang instant, seperti sms dan chat. Membuat surat adalah suatu yang aneh bagi mereka.

Pelajaran yang dapat kita petik adalah mari kita ajarkan generasi  kita dengan baik. Tidak perlu memaksa mereka menjadi filatelis. Mari kita ajarkan sedikit pengalaman kita tentang surat dan perangko. Jelaskan sedikit fungsi perangko dan surat dengan bahasa yang mudah mereka mengerti. Mari ajarkan juga menulis huruf tegak bersambung, supaya tulisan mereka rapi dan enak dilihat. Saya yakin sekali generasi  kelahiran '80 kebawah masih menikmati pelajaran di sekolah SD huruf tegak bersambung. bersyukurnya kita menikmati itu semua ... 

Kembali ke perangko, kesukaan saya mengkoleksi perangko belakangan ini malah semakin menggelora lagi. Khusus setiap seri perangko Indonesia lengkap 1 seri. Setiap penerbitan akan saya usahakan bagaimanapun caranya untuk mendapatkan seri lengkap seperti Hari Terbit Pertama (First Day Cover) atau singkatan FDC, FDS SS, Souvenir Sheet (Carik Kenangan) , Mini Sheet (lembaran peranko dalam jumlah sesikit) dan Full Sheet ( Perangko dengan lembara penuh 1 blok). Saya tidak peduli bahwa prangko dan filateli akan seperti “Dinosaurus” yang akan punah bahkan jadi fosil sekali pun. Ketika saya memandang serta merapikan semua koleksi perangko, entah kenapa ketika saya menyibukkan diri ke filateli saya merasa “enjoy “ ketika saat mengatur, menambah koleksi, melihat-lihat  perangko yang saya miliki. Jika hobi kita dapat menyenangkan hati, pastinya akan memberikan “feedback” yang baik bagi jasmani dan rohani kita.

Anda hobi Filateli? Padahal banyak pelajaran yang bisa dipetik dari hobi ini. Tugas orang-orang seperti kitalah untuk memperkenalkan, dan tidak bosan-bosannya mengajarkan dunia filateli.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar