Nasib Filateli bagi Anak Zaman
Kekinian
Semakin
berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, rasanya prangko memang makin
tergeser. Arus teknologi dan informasi yang memudahkan setiap pengguna, dengan
berbagai aplikasi komunikasi seperti chat, wa, video call, dan lain lain. Kita sangat dimanjakan dengan pelbagai
fasilitas ini, sehingga jarak dan waktu tidak ada lagi kendala untuk saling
berkomunikasi.
Beruntunglah
kita semua kelahiran generasi ’80 kebawahnya, masih merasakan nikmat menulis
selembar atau bahkan tiga lembar full.
Menulis dengan guratan tangan sendiri pasti ada emosi jiwa. Menulis
sebuah surat membutuhkan tata cara, sopan santun, etika dan emosi yang
tertahan. Emosi yang tertahan ini biasanya yang sering terjadi, emosi yang
cukup halus dengan menggambarkan kerinduan, harapan dan cita-cita. Apalagi untuk
muda-mudi pasti merasakannya. Begitu juga orang tua ketika menulis surat untuk
anaknya di perantauan atau sedang belajar sekolah di kota seberang, atau
anaknya yang sedang mencoba peruntungan merantau ke luar pulau. Bisa kita
bayangkan bagaimana emosi menulis surat saat itu... yang tidak dapat dilukiskan
dengan kata-kata.... Jika sudah selesai menulis surat, dimasukkan ke dalam
amplop, lalu menuliskan alamat dan tak lupa nama si penerima, seperti “Utk
Anandaku tercinta “.... ‘Buat Ayah/ibu tercinta’ ... atau yang sedang memadu
kasih ‘adinda tersayang’.... setelah
surat dimasukkan ke amplop, siapkan perangko. Nah, disinilah Perangko sebagai
media pelunasan pengiriman surat. Nominal perangko menyesuaikan jarak tempuh
pengiriman surat. Bagi yang sudah biasa
mengirim surat pasti tau nominal jumlahnya, atau langsung ke Kantor Pos
terdekat, tanya ke karyawannya butuh perangko nominal berapa, kalau dia hobi
filateli liat perangko dulu, mencari yang bagus, ditempel, bahkan membeli satu
perangko untuk dimasukkan ke surat, agar bisa digunakan si penerima membalas
kembali surat.
Sekarang
mari kita lihat generasi sekarang, jangan tanya 2 kata ini, surat dan prangko.
Mereka pasti menunjukkan ketidaktahuannya dengan wajah bingung ditambah mimik
mulut melongo. Lalu coba kita tanyakan kepada mereka untuk menuliskan “chat” atau “comment” di facebook, whatsapp,line dsb. Kita akan
melihat betapa takjubnya tulisan mereka, bahkan kita yang gantian melongo melihat
tulisan mereka dengan bahasa gaul yang tidak kita mengerti. Jangan tanya tata
bahasa “chat” mereka, jauh dari tata cara penulisan berbahasa yang baik dan
benar. Beruntunglah kita generasi ’80 kebawah
yang masih belajar menulis surat dengan bahasa indonesia yang baik dan benar. Kebiasaan
menulis hampir tidak dimiliki lagi oleh sebagian besar generasi muda sekarang.
Mereka lebih suka yang instant, seperti sms dan chat. Membuat surat adalah
suatu yang aneh bagi mereka.
Pelajaran
yang dapat kita petik adalah mari kita ajarkan generasi kita dengan baik. Tidak perlu memaksa mereka
menjadi filatelis. Mari kita ajarkan sedikit pengalaman kita tentang surat dan
perangko. Jelaskan sedikit fungsi perangko dan surat dengan bahasa yang mudah
mereka mengerti. Mari ajarkan juga menulis huruf tegak bersambung, supaya
tulisan mereka rapi dan enak dilihat. Saya yakin sekali generasi kelahiran '80 kebawah masih menikmati pelajaran di sekolah SD huruf tegak bersambung. bersyukurnya kita menikmati itu semua ...
Kembali
ke perangko, kesukaan saya mengkoleksi perangko belakangan ini malah semakin
menggelora lagi. Khusus setiap seri perangko Indonesia lengkap 1 seri. Setiap
penerbitan akan saya usahakan bagaimanapun caranya untuk mendapatkan seri
lengkap seperti Hari Terbit Pertama (First Day Cover) atau singkatan FDC, FDS SS, Souvenir Sheet (Carik Kenangan) , Mini Sheet (lembaran peranko
dalam jumlah sesikit) dan Full Sheet ( Perangko dengan lembara penuh 1 blok). Saya
tidak peduli bahwa prangko dan filateli akan seperti “Dinosaurus” yang akan
punah bahkan jadi fosil sekali pun. Ketika saya memandang serta merapikan semua
koleksi perangko, entah kenapa ketika saya menyibukkan diri ke filateli saya merasa
“enjoy “ ketika saat mengatur, menambah koleksi, melihat-lihat perangko yang saya miliki. Jika hobi kita
dapat menyenangkan hati, pastinya akan memberikan “feedback” yang baik bagi
jasmani dan rohani kita.
Anda
hobi Filateli? Padahal banyak pelajaran yang bisa dipetik dari hobi ini. Tugas
orang-orang seperti kitalah untuk memperkenalkan, dan tidak bosan-bosannya mengajarkan dunia filateli.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar